Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Semoga


Denting melody hujan...
Meninabobokan daun diujung ranting yg rapuh
Dia benci tanah jingga-nya
Dia bertahan di telapak angin
Yg terkadang berguyon
Tentang takdir
Tentang masa
Tentang kabut di sore hari
Tentang rindu pada pagi
Tentang secangkir nurani
Yg tersisa disudut hati
Semoga tak lekang oleh hujan
Meski bintang terkadang samar
Meski pelangi pudar
Semoga...

Selasa, 11 Mei 2010

Selamat malam pemimpi kecil
Blm beratkah kantukmu?
Akan kubingkiskan senyum pada embun dini hari
Agar terkikis cemasmu
Sedikit demi sedikit
Setetes demi seteguk
Tuhan tetap tak teraba
Serupa sang candu malam
Yg silau akan pagi
Mereka namai kau pemimpi kecil
Yg tak suka terlelap di sudut gang
Namun mendamba
Entah apa yg kau damba
Aku hanya menemani
Di ruang remangmu
Hingga nanti
Kantuk terakhirmu


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Minggu, 21 Maret 2010

Di hari itu kutemui Pelangi

Aku hari yg mempertanyakan kehadiran pelangi
Mengapa hanya datang terkadang?
Mengapa hanya pada saat hujan betemu terang?
Mengapa semesta tak memberinya ruang yg lapang?

Aku hari yg mencintai misteri
Tak mencari jawab atas pertanyaan hati
Keindahannya ada di balik selaput mimpi
Yang kan mengejar pelangi-nya sendiri
Dan saat segala kekuatan kehilangan fungsi
Aku percaya...dihari itu kutemui pelangi

Aku hari....menunggu mentari beranjak dari timur hingga barat
Dan jika pelangi tak kunjung membusur
Karena tinta-ku kehabisan warna
Terhapus deras hujan berkepanjangan
Masihkah ada nurani-mu untuk memahamiku?
Memahami malam yang merindukan pagi
Pahamilah segala batasku
Di hari itulah kutemui pelangi
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sabtu, 13 Februari 2010

Aku bukan aku

Aku bukan kunang-kunang yang mencintai gelap, bukan pula gelap yg tak mempunyai bayangan, bukan pula bayangan yang tak ikuti gerak, bukan gerak yang tak beriak,riak-ku berontak saat kehilangan jarak

Aku bukan penghuni yang tak mengenal rumah, bukan rumah yang tak mengenal tanah, bukan pula tanah yang gembur tak berkerikil, bukan kerikil yang berguling menuju lembah, lembah-ku tandus saat rintik hujan tertahan awan

Kamu tak mengenaliku seolah jelaga kuasai cahaya, memudar serupa jam yang tak mengenal menit, dan menit yang tak mengenal detik. Padahal bukankah kita berjalan pada titian jembatan takdir yang sama?. Menolehlah sejenak, karena aku disinipun karena jejakmu...

Hatiku mungkin bukan isyarat yang dititipkan takdir...hanya sebuah rahasia yang menuntunmu ke ujung.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Senin, 28 Desember 2009

Hati


Mentari saja memaafkan hujan,,dan laut tak pernah keberatan dgn kehadiran badai..sang pelita berbagi cahaya pada gelap,dan bunyi bs bersuara kapan saja dikala sunyi.

Satu bagian abstrak dalam tubuh manusia,namun bs terasa hanya dgn trsentuh bunyi,pandangan,dan penciuman...bagian yg tak ada namun terasa.

Rasakanlah segala sesuatunya dgn cara yg indah,,maka bagian itu tak kan terasa sakit.

Seperti semesta yg agungkan kuasa,seperti alam yg berevolusi.
Seperti itulah seharusnya manusia memiliki HATI...

Jumat, 04 Desember 2009

Laki - laki


Jika aku riak sungai yg mengalir,seharusny kusebut kau sbagai hulu.
Jika aku lilin,seharusny kusebut kau sebagai gelap.
Jika aku mimpi,seharusnya kusebut kau sebagai nyata.
Jika aku adalah lagu,seharusny kau kusebut lirik.
Jika aku adalah roman,seharusny kau kusebut komedi.
Jika aku adalah pasar,seharusny kau kusebut sunyi.
Jika aku adalah racun,seharusny kau penawarnya.
Jika aku adalah sesat,seharusnya kau kusebut peta.
Jika semesta hanyalah sebuah tanya,maka jadilah sebuah jawaban,,,
seperti hujan yg menjawab mendung, atau malam yg menjawab sore.
Membuat aku bisu,saat menjadi sok tau,malu saat terjebak nafsu, menyerah saat marah,memerah saat kata cinta tercurah...
Karena aku hanyalah PEREMPUAN
dan sepantasnya kusebut kau sebagai LAKI-LAKI.

Hatiku Tak Bernama


Apa kata yang tepat untuk kuucap
Ketika mata,mulut,tangan,bertanya
tentangnya...
Sejujur riak air yang tegerak saat tersentuh,
Maka harus kujawab saat senja tiba.

Apa aksara yang harusnya tertulis,
Saat kanvas putih terlukis tak bertuan,
Agar terpercik warna bianglala,
Sperti stabilo yg cerah namun transparan,
Atau haruskah kurangkai ribuan nyanyian sumbang menjadi sbuah prolog?

Bagaimana kubahasakan peta jalanku,
Jika koordinatny tak bernama.
Sepertinya tak kan sama jika bukan kau yg brdiri d ujung jalan itu...
Mungkin saja ke 4 kaki kita tak mnuju k satu rumah,
Atau ke 4 kelopak mata kita tak bermuara pda satu hati.
Namun demi tuhan, anginpun paham siapa aku...

Jadi harus kunamai apa hatiku...?